Portret Angeline Amaly Jacobsz. Foto ini berasal dari koleksi putrinya, Carla, dan disediakan oleh Angela Verheul.
Dalam kisah ini, terdapat petikan-petikan dari buku catatan Ans. Bagian-bagian ini ditandai sebagai "bisikan oma."
Prolog: suara-suara yang hilang
Angin menggigit kulitnya seperti hukuman yang tak dikenalnya. Kristal-kristal es menusuk pipinya seperti serpihan kaca... begitu berbeda dari rasa hangat musim hujan di Surabaya. Jari-jarinya mencengkeram pagar besi yang beku, matanya menatap dermaga IJmuiden yang basah dan asing. Negeri dingin ini seharusnya menjadi rumahnya, namun segalanya terasa ganjil dan jauh.
Charles berdiri di sampingnya, lengannya melingkar erat di badannya. Genggamannya hangat dan menenangkan. Namun bahkan sentuhannya pun tak mampu mengusir dingin yang telah berakar jauh di dalam dirinya. Dia tahu Charles merasakan ketakutannya dan kesedihannya, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Diam mereka bersuara lebih keras dari semua kata yang tak berani ia ungkapkan.
Di belakangnya tertinggal semua yang pernah dia kenal: tanah masa kecilnya, bunga melati dan pohon palem, aroma rempah, hangatnya sinar matahari, dan suara-suara malam yang lembut. Suara-suara yang tertawa, perlahan memudar dalam ingatannya... suara ibunya, adik-adiknya, aman dan akrab. Tak ada lagi cendrawasih, tak ada lagi alam yang tak terbatas dan penuh kehidupan — hanya teriakan camar yang dingin dan dentuman koper-koper di dermaga yang licin.
Dia tidak lagi menoleh ke belakang. Kalau dia menoleh, mungkin dia akan hancur. Indonesia telah melepaskannya, membuangnya, menghapus keberadaannya seperti jejak kaki di tepi laut.
Ketika akhirnya ia menginjakkan kaki di daratan, dia menarik napas dalam-dalam dan menarik selendangnya lebih erat. Seolah-olah dengan begitu dia bisa menutupi masa lalunya juga. Sejak saat itu dia memutuskan untuk berdiam diri. Bukan karena pengecut, melainkan untuk bertahan hidup. Tentang negeri yang dia kehilangan, tentang rasa sakit yang dia tinggalkan, dia tidak akan pernah berbicara lagi. Dia menyimpan segalanya jauh di dalam dirinya, di balik senyum yang tak sepenuhnya miliknya. "Kita sudah di Belanda sekarang," pikirnya, "jadi kita harus bersikap seperti orang sini."

Ans pada tahun 1931. Foto ini berasal dari koleksi putri Ans, Sonja, dan disediakan oleh cucunya, Rutger Dercks.

Ans saat masih kecil, duduk di atas pasir bersama dua anak anjing yang lincah, di dekat rumah orang tuanya pada tahun 1930-an.

Ans dan Jim bersama seekor anak anjing, dengan kepala yang botak dan licin. Di latar belakang tampak salah satu pembantunya asal Jawa. Foto-foto ini berasal dari koleksi putrinya Ans, Sonja, dan disediakan oleh cucunya, Rutger Dercks.

Ans sedang mengendarai sepeda motor Excelsior milik ayahnya, bersama salah satu anjing peliharaannya. Foto ini berasal dari koleksi putri Ans, Sonja, dan disediakan oleh cucunya, Rutger Dercks.

Jim, Boy, dan Ans bersama Bibi Bob (yang identitas pastinya tidak diketahui) di Blitar—kemungkinan besar selama liburan musim panas. Foto ini berasal dari koleksi putri Ans, Sonja, dan disediakan oleh cucunya, Rutger Dercks.
Ketika perang datang
Suatu malam Ans terbangun oleh suara yang aneh. Terdengar dalam dan rendah, seolah-olah bumi sendiri yang menderam. Mula-mula ia mengira gempa bumi. Namun ranjangnya tidak bergetar. Ini sesuatu yang berbeda. Ia tetap berbaring. Napasnya tertahan. Seolah-olah ia bisa mengusir suara itu dengan pikiran.
Di luar terdengar derap sepatu yang teredam di atas jalan berdebu. Hentak berat kaki mendentum seperti detak jantung — semakin dekat.
Ia menyingkirkan selimut tipis dan menyelinap ke jendela. Anak-anak perempuan lain pun telah terjaga. Mata-mata mereka lebar dan tegang dalam cahaya lentera di luar. Dan kemudian ia melihatnya. Melalui jendela, siluet-siluet muncul dalam kegelapan malam: prajurit-prajurit, berseragam warna keki dengan senapan panjang di punggung mereka. Bulan memantulkan cahaya di atas helm-helm mereka. Jantungnya berdegup di tenggorokan.
"Ada ratusan tentara berbaris. Jepang. Menakutkan sekali."
Pagi berikutnya para suster telah pergi. Tanpa pamit, tanpa penjelasan. Hanya koridor-koridor yang kosong. Mula-mula anak-anak perempuan masih berharap mereka akan kembali. Namun hari-hari berlalu. Tak seorang pun kembali. Ruang makan lebih sunyi. Asrama lebih lengang. Doa-doa lebih singkat. Anak-anak perempuan berbisik lebih jarang. Bergerak lebih hati-hati. Seolah-olah mereka tidak ingin menarik perhatian. Seolah-olah mereka takut bahwa jika terlalu berisik, merekalah yang berikutnya.
"Begitulah kami tiba di Blitar, di rumah oma dan opa."
Blitar
Surabaya berdenyut penuh kehidupan. Aroma sate segar dan bakso dari warung-warung kaki lima bercampur dengan bau oli dan karet dari pelabuhan. Trem dan mobil melintas di jalan-jalan sibuk tempat ia dulu berjalan sebagai anak-anak bersama kakak-adiknya, bergandengan tangan, di antara pria-pria berkopiah dan perempuan-perempuan berkebaya yang bergegas melewati kota.
Blitar lambat, sunyi. Tidak ada pelabuhan, tidak ada trem, tidak ada deretan toko yang penuh cahaya dan suara. Hanya jalan-jalan panjang dengan pohon-pohon yang condong dalam di atas jalan setapak, seolah-olah hendak membisikkan rahasia mereka. Siang hari desa itu terlelap di bawah matahari; malam hari hampir tidak terdengar apa-apa kecuali jangkrik yang berderik dan tokek yang memanggil.

Di latar depan, Boy duduk di atas sepeda roda tiga, dengan Klein di sampingnya yang sedang memegang boneka. Di sebelah kanan, Jim bersandar pada sepedanya. Di bagian belakang, Ans berdiri sambil memeluk boneka, dan ibu Rien sedang menggendong Alex yang masih kecil. Foto ini milik adik Ans, Klein, dan disediakan oleh Bert Otterspeer.
"Di sana [di Blitar] kami belajar apa itu kerja. Kami perempuan belajar memasak, menambal, menarik renda, dan merajut dari suster Gulje, seorang perawat Suriname tua yang tinggal bersama oma dan opa. Merajut, kaus kaki, stoking, blus, celana dalam — untuk dijual agar bisa makan."
Bukan hanya Ans dan Klein yang harus bekerja; Jim dan Boy pun diberi tugas. Mereka belajar merawat tanaman, menyiram anggrek, menjaga kebun tetap rapi. Namun pembagiannya tidak selalu adil.
"Jim adalah anak yang paling sering kena marah — betapa banyak pukulan yang dia terima tanpa alasan yang jelas. Dan merawat tanaman. Anggrek dan sebagainya. Positifnya, Jim, adalah kamu sekarang tahu cara merawat hal-hal itu. Kami memang mendapatkan roti kami saat itu. Roti belas kasihan."
Kini Ans tidak lagi bisa bersekolah, dan pekerjaan menjadi pegangan hidupnya. Namun di luar, perang semakin merangsek masuk. Patroli Jepang berjalan menyusuri jalan-jalan, tatapan mereka tajam dan mengawasi. Kempeitai semakin sering muncul. Lelaki-lelaki menghilang tanpa sebab. Keluarga-keluarga digiring pergi. Tidak ada yang tahu siapa giliran berikutnya.
Para ibu menjaga anak-anak perempuan mereka dengan khawatir di dalam rumah begitu tentara Jepang mendekat. Kadang-kadang sudah terlambat. Seorang anak perempuan digiring pergi. Ibunya berteriak memanggil namanya. Namun tidak ada yang berani turun tangan. Keesokan harinya orang-orang berbisik bahwa dia telah berakhir di salah satu "rumah" itu. Setelah itu tak ada lagi yang menyebut namanya.
Di rumah pekerjaan terus berlangsung seolah-olah tidak ada yang berubah. Namun Ans melihat ibunya semakin sering batuk, mula-mula pelan, kemudian dalam dan menyakitkan. Kulitnya semakin pucat, gerak-geriknya semakin lamban. Mungkin kelelahan, mungkin sesuatu yang lain. Bayi akan segera lahir. Ia tidak bisa tinggal di sini. Tidak dalam keadaan seperti ini.
Mereka harus kembali ke Surabaya. Kota tempat segalanya dulu bermula. Di sana ibunya bisa mendapat perawatan yang ia butuhkan. Namun tidak ada yang akan sama lagi. Mereka mengemas beberapa barang, yakin akan segera kembali begitu segalanya berlalu. Namun perang punya rencana lain.
Darmo
Dan tibalah hari itu, ketika Ans bersama ibunya diinternir di Surabaya. Pagar-pagar setinggi beberapa meter menutup di belakang mereka dan dunia pun mengecil. Di dalam sana hanya ada satu kepastian: lapar. Apa yang semula hanya rasa tidak nyaman, menjadi kenyataan yang terus-menerus.
Kamp itu penuh dengan perempuan dan anak-anak perempuan. (Indo-)Eropa, Tionghoa, Armenia. Ibu-ibu dengan anak-anak. Anak-anak perempuan tanpa ayah. Para lelaki dikurung di tempat terpisah. Anak-anak laki-laki yang lebih besar — mereka yang sudah terlalu besar untuk dihitung sebagai anak-anak — digiring pergi, dipisahkan dari ibu-ibu mereka. Termasuk Jim. Teriakannya adalah hal terakhir yang didengar Ans darinya.
Kehidupan sehari-hari di kamp berat dan monoton. Malam-malam dihabiskan di kamar-kamar yang penuh sesak, di mana keluarga-keluarga berbaring bahu-membahu dengan orang-orang yang sama sekali asing. Privasi adalah kemewahan yang tidak lagi dikenal siapa pun. Tidur di atas tikar tipis dari anyaman daun yang hampir tidak memberikan perlindungan dari lantai yang dingin dan keras. Di luar, di dapur-dapur darurat, makanan yang sedikit dimasak dalam tong-tong besar di atas api kayu. Jatah makanan dibagi seadanya, cukup untuk sekadar bertahan hidup. Namun tidak pernah cukup untuk menghilangkan rasa lapar yang terus menggerogoti. Setiap piring adalah pengingat tentang apa yang tidak mereka punya. Setiap suapan adalah doa sunyi untuk suatu hari bisa kenyang sungguh-sungguh.
Anak-anak yang lebih besar, seperti Ans, harus membantu berbagai pekerjaan. Mereka menggosok lantai, menyapu lapangan, mengangkat ember-ember air — kadang-kadang berjam-jam di bawah terik matahari. Kebutuhan buang air mereka lakukan di kakus-kakus darurat: lubang-lubang kotor di tanah yang baunya tak tertahankan dan dipenuhi lalat yang berkerumun di sisa-sisa najis. Diare, malaria, dan borok tropis dengan cepat menelan korban. Obat-obatan hampir tidak ada; itu disimpan Jepang untuk diri mereka sendiri. Di mata para penghuni kamp, Jepang memandang mereka seperti sampah. Kematian pun segera menjadi tamu yang akrab di balik pagar-pagar itu.
Kemudian, pada 19 Oktober 1943, lahirlah adik tiri perempuannya Antonia Elly Lucie Westhoff. Sebuah kehidupan baru di tempat yang terutama dikuasai kematian. Ibunya mendekap bayi itu erat-erat, seolah-olah dengan begitu ia bisa melindunginya dari dunia di luar pagar. Namun bagaimana caranya melindungi seorang anak dari tempat yang bahkan orang dewasa pun retak di sana?
Yang tetap tak terucapkan
Kematian tidak hanya berkuasa di kamp Ans. Di tempat-tempat lain pun kekejaman terjadi setiap hari. Salah satu kejadian itu kemudian dikenang oleh Silvia Magdalena Jacobsz (Meiske), adik tiri Ans, yang ditahan di kamp yang berbeda.
"Seorang perempuan dari kamp kami tidak membungkuk dengan benar di hadapan penjaga. Ketika ia diperintahkan untuk mengulanginya — dan kali ini dengan benar — ia malah menjawab dengan kasar. Jawabannya yang berani itu pasti telah sangat menghinanya, karena apa yang terjadi berikutnya sungguh mengerikan. Semua penghuni kamp harus berbaris di lapangan appèl untuk menyaksikan bagaimana ia dihukum atas penghinaannya terhadap wakil Kaisar Jepang. Setelah semua berkumpul, perempuan itu harus berlutut di tengah lapangan dan menundukkan kepala. Salah seorang Jepang mengangkat pedang samurainya dan membunuhnya dengan satu ayunan. Apakah ia benar-benar dipenggal, aku tidak yakin — aku sudah memejamkan mata sesaat sebelum ayunan itu jatuh. Dari orang lain kemudian aku dengar bahwa ia meninggal."
Bukan hanya kekejaman sebagai hukuman di depan umum, tetapi juga naluri bertahan hidup sehari-hari bisa berakibat fatal. Meiske kemudian bercerita bagaimana suatu kali ia mencoba menyelundupkan makanan melalui pagar dengan menipu seorang penjual Jawa menggunakan uang palsu. Ia tertangkap dan mendapat hukuman berat: berjam-jam ia harus berdiri di atas tong logam, wajahnya menghadap matahari, sementara logam di bawah kaki telanjangnya semakin panas.
Apa yang dialami Ans sendiri di kamp sebagian besar tetap tersembunyi. Ada hal-hal yang tidak pernah ia bicarakan. Kesunyian yang lebih berat dari kata-kata. Mungkin karena ada kenangan yang terlalu menyakitkan untuk dipegang. Atau karena mereka hanya bisa bertahan dalam kesunyian. Kadang-kadang bukan apa yang diceritakan, melainkan apa yang dibungkam, yang paling terasa.
Setelah pembebasan: kekacauan dan ketidakpastian
15 Agustus 1945. Kabar itu datang melalui radio: Jepang telah menyerah. Perang telah usai. Namun di kamp Darmo, Ans tidak merasakan kegembiraan — hanya kekosongan yang aneh dan menekan. Para penjaga Jepang, yang dulu begitu ditakuti dan tanpa ampun, tiba-tiba menjadi bayangan-bayangan yang bisu. Beberapa duduk jongkok dengan lunglai, menatap kosong seolah-olah jiwa mereka telah pergi. Yang lain menarik diri ke sudut-sudut gelap kamp, di mana dengan tangan gemetar dan wajah penuh rasa malu dan putus asa mereka mempersiapkan akhir mereka. Suara teriakan terakhir mereka menembus kamp, tajam seperti pisau, diikuti kesunyian yang berat. Apa artinya kebebasan lagi?
Revolusi Indonesia
Di luar tembok, pertempuran baru segera meletus. Surabaya bergolak dalam amarah dan pemberontakan, dipimpin oleh para pemuda nasionalis Indonesia — para pemuda — yang dengan kekerasan menghapus setiap kenangan tentang masa lalu kolonial. Nama jalan, monumen, toko-toko, keluarga-keluarga — semua yang pernah akrab dan aman, dihancurkan dengan kekuatan brutal oleh kebencian yang dalam.
Frank Boon, suami adik tiri Ans, Meiske, masih ingat betul masa itu di Surabaya. Ia menyaksikan bagaimana sekelompok pemuda menyeret tetangga seberang jalan yang keturunan Tionghoa itu keluar dari toko rempah-rempah kecilnya yang sederhana, menendang dan memukulinya hingga ia berlutut. Dengan mata liar dan amarah yang tak terbendung, mereka menyergap istrinya yang sedang hamil dan merobek-robek pakaiannya. Sementara sang suami dipaksa menyaksikan, perut istrinya dirobek dengan bambu runcing. Bayi yang belum lahir itu jatuh dari tubuhnya, tak berdaya dan mengejang di atas batu-batu yang berlumuran darah. Dengan semangat yang sakit, mereka menginjak-injaknya berulang kali, seolah-olah ingin membuktikan berapa banyak kebencian yang bisa ditopang oleh kaki-kaki mereka. Perempuan itu berteriak, suara yang mengerikan dan hampir seperti binatang, mengatasi kebisingan, hingga ia pun ditusuk dengan bambu runcing. Teriakannya perlahan padam, hilang dalam keributan suara-suara yang berseru, berulang kali mengumandangkan "Allahu akbar!" seolah-olah pertumpahan darah itu adalah kemenangan yang suci.
Pemilik toko itu berlutut, membatu, wajahnya terpias ketakutan dan tak percaya. Air mata mengalir diam-diam di pipinya, tahu bahwa masa depannya baru saja dirampas selamanya — bahwa ia tak akan pernah lagi memeluk istrinya, tak akan pernah melihat anaknya tumbuh dewasa. Satu-satunya dosanya: ia orang Tionghoa. Itu murni rasisme. Kebencian yang tidak mengenal belas kasihan, tidak mengenal akal, tidak mengenal kemanusiaan. Ia memandang sekali lagi ke atas, ke wajah-wajah penuh kebencian, dan mengerti bahwa ia adalah yang berikutnya.
Kekejaman-kekejaman ini bukan pengecualian. Mereka telah menjadi bagian dari kenyataan sehari-hari Ans. Orang-orang Indo seperti Ans tidak lagi diterima di mana pun. Mereka tidak sepenuhnya Belanda, dan juga bukan orang Indonesia. Bagi orang Belanda, mereka orang asing; bagi orang Indonesia, mereka pengkhianat. Kebebasan tidak ada. Hanya ketakutan dan kebingungan.
"Keadaan politik sangat buruk," tulis Ans tentang tahun-tahun itu.
Ironisnya, kini para mantan penjaga Jepang itu yang harus melindungi mereka dari ancaman dari luar. Kamp tetap tertutup, pagar-pagar terkunci rapat demi keselamatan mereka sendiri. Musuh yang selama bertahun-tahun telah menindas mereka, kini menjadi harapan terakhir mereka.
Baru ketika pasukan Inggris pada akhir 1945 memasuki Surabaya setelah pertempuran sengit dan meredakan kekacauan di jalanan, pintu gerbang Darmo akhirnya terbuka.
Saat dibebaskan, Ans didaftarkan, diperiksa secara medis, dibasmi kutu dan cacing oleh Palang Merah. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun ia bisa mandi dengan air dan sabun yang sungguhan; akhirnya merasakan kembali rasa bersih, meski kulitnya masih kasar dan tubuhnya masih kurus. Bahkan kenyamanan sederhana sebuah toilet biasa terasa seperti kemewahan yang asing. Seolah-olah ia perlahan-lahan diizinkan menjadi manusia kembali.
Sementara ia perlahan-lahan berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan baru ini, ia mendengar bahwa ayahnya telah meninggal di Jalur Kereta Api Burma–Siam yang terkenal itu. Kabar itu datang tak terduga, namun tidak mengubah banyak hal — ia memang tidak pernah benar-benar mengenal ayahnya. Namun ia sadar bahwa dengan ini, kesempatan untuk suatu hari mengenalnya pun telah hilang selamanya.
Rumah baru
Ans pindah bersama keluarganya ke Jalan Dinojo 80, di mana mereka tinggal bersama ibunya Rien, kakek-nenek angkat Claasz, adik-adiknya Jim, Boy, dan Lex, serta kakak-adik perempuannya Klein dan Lucie, dan seorang perempuan Tionghoa bernama Tjie Tjeng Soei. Rumah itu kecil dan penuh, namun bagaimanapun juga mereka bersama.

Ans dan Klein berpose bersama untuk kartu ucapan Natal pada tahun 1946. Foto ini berasal dari koleksi putri Ans, Sonja, dan disediakan oleh cucunya, Rutger Dercks.
Namun tidak ada yang sama lagi. Di luar mengambang kesunyian yang mengancam. Kota telah berubah, kegelisahan terasa. Si kecil Alex yang berumur tujuh tahun melakukan apa yang ia bisa untuk membantu keluarga. Energi dan keberaniannya mengagumkan untuk seorang anak sekecil itu.
"Lex selalu datang membawa makanan. Ia mengais di mana-mana. Kemudian ia juga membawa pulang tentara yang memberinya makanan itu. Lex, ia meninggal karena malaria."
Kematiannya meninggalkan kesedihan yang menyakitkan. Namun tidak ada banyak waktu untuk berduka. Cerita-cerita dari kampung di belakang rumah mereka semakin suram.
"Sebagai anak perempuan enam belas, tujuh belas tahun, tentu saja kita penasaran. Kita mendengar begitu banyak cerita mengerikan tentang kampung, di belakang kita, sampai suatu malam aku pergi melihat sendiri. Menakutkan. Di mana-mana kamu bisa melihat mayat-mayat yang hancur. Aku tidak pernah pergi ke sana lagi. Dari mammie aku dapat tamparan."
Kenyataan keras sebuah negeri yang kacau merembes masuk bahkan ke dalam rumah mereka. Rien, ibunya, semakin sakit, dan Ans merasa tak berdaya. "Waktu itu mama sangat sakit sekali. Ada lubang di paru-parunya, kalau itu dikatakan kepadamu waktu kecil, kamu benar-benar panik. Tidak ada yang bisa membantu." Hari-hari berat, namun Ans berpegang pada apapun yang masih bisa ia lakukan. Bersama adiknya Jim ia bekerja di rumah sakit — bukan karena panggilan jiwa, melainkan semata-mata untuk bertahan hidup. "Setidaknya kita bisa makan," pikirnya. Namun ini pun tidak bertahan lama.
Jim terpaksa pergi ke Papua — jauh dari jangkauan republik, demi keselamatannya sendiri. Begitulah Ans ditinggal sendirian. Di tengah semua itu ia menatap ke depan dan melanjutkan pendidikannya di MULO, di mana ia menonjol dalam stenografi, mengetik, dan bahasa Belanda. Ilmu bumi, berhitung, dan pembukuan kurang ia sukai. Ia bermimpi menjadi perawat, namun seperti yang kemudian ia tulis sendiri dengan senyum penuh kasih: "Aku jadi perawatnya Charles."

Daftar nilai pada ijazah kelulusan Angeline Amaly Jacobsz, yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan, Seni, dan Ilmu Pengetahuan di Batavia
Kehidupan baru bersama Charles
Ketika para tetangga mereka, Lis dan Maurits, menikah, ia melihatnya untuk pertama kali: Charles Jozef Thümann, tinggal dua rumah lebih jauh di Jalan Dinojo 82. Tatapan mereka bertemu dengan malu-malu. Secercah harapan.
"Kami berkenalan di pernikahan Lis dan Maurits. Betapa malunya kami. Kami saling menatap dengan pandangan sembunyi-sembunyi. Dua minggu kemudian Charles datang ke rumah untuk berkenalan dengan oma Claesz (dia dipanggil oma putih, nenek moyangmu) Mama, papa, tante non dan seluruh keluarga. Menyenangkan. Setelah itu ia bertanya apakah ia boleh mengajakku keluar. Boleh, tapi harus pulang jam sebelas, ha ha. Tentu saja kami terlambat. Jam setengah dua belas kami baru pulang. Nah, Charles pun kena. Dari oma putih ia mendapat omelan. Setelah itu kami selalu pulang tepat waktu."
Di negeri yang penuh ketidakpastian, Charles mungkin satu-satunya kepastian. Ibunya Rien menyetujuinya — seorang tentara dengan penghasilan tetap, setidaknya ada sesuatu yang bisa dibangun.
"Kami banyak bersenang-senang, setiap malam makan di luar, sampai suatu kali kami makan yang salah dan kena diare. Habislah kesenangan itu."
Namun ancaman tetap ada. Charles ada dalam daftar sasaran tentara republik Indonesia yang baru. Ia diburu karena telah bertempur bersama Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL).
"Ia mendapat panggilan untuk pergi ke Belanda. Mau bagaimana? Ia tidak mau meninggalkanku. Maka kami menikah. 16 Jan 1951. Pernikahan sangat sederhana, yang untuknya ia menjual sepedanya yang setia. Sepeda yang telah membawa kami ke mana-mana."

Pernikahan Ans dan Charles pada tanggal 16 Januari 1951, di rumah mereka di Jalan Dinojo 80, Surabaya. Ans berjalan meninggalkan rumah bersama Paman Baier, menuju kantor catatan sipil.

Di dekat balai kota, Charles berjalan di belakang Ans dan Paman Baier.

Setelah upacara, pasangan pengantin baru itu berjalan berdampingan pulang ke rumah.

Di belakang karangan bunga besar itu tampak pasangan pengantin. Dalam foto tersebut terlihat, antara lain: ibu Rien bersama suami keduanya, nenek Claasz, serta anak-anak dari keluarga Baier. Foto-foto ini berasal dari koleksi putri Ans, Sonja, dan disediakan oleh cucunya, Rutger Dercks.
Penyeberangan
Ketika Ans berdiri di tangga naik kapal, ia menoleh sekali lagi. Surabaya terbentang di belakangnya, dimandikan cahaya hangat matahari pagi, seolah-olah kota itu enggan melepaskannya. Inilah tanah tempat ia lahir, tempat ia tertawa, menangis, mencinta, dan kehilangan. Masa kecilnya ada di sana, di antara aroma bunga setelah hujan tropis dan dengung lembut keluarga di beranda. Inilah rumahnya. Namun rumah telah membuangnya.
Ia mencengkeram pagar. Jantungnya berdegup dalam dadanya. Di dermaga itu ia tidak hanya meninggalkan kotanya, tidak hanya negaranya. Ia meninggalkan ibunya, adik-adiknya, keluarganya — suara-suara yang telah membentuknya, memeliharanya, menopangnya. Ia tidak tahu apakah ia akan bertemu mereka lagi. Segalanya terasa tak terbalikkan. Seolah-olah sebagian darinya akan selamanya melayang di antara dua dunia, tanpa jangkar, tanpa arah.
Perjalanan dimulai dengan kapal KPM, si Oudshoorn. Setelah sehari di laut, kapal berlabuh di Semarang, di mana banyak orang senasib naik — terutama para tentara dengan tatapan beku dan koper-koper berat. Dua hari kemudian, pada 29 Januari 1950 pukul setengah delapan pagi, mereka tiba di Jakarta. Di sana ia mengikuti Charles turun untuk menetap di kamp transit Tjililitan, tempat mereka akan menunggu kapal yang akan membawa mereka ke Belanda.
Kamp itu bukan tempat yang tenang. Keran-keran ditutup antara pukul delapan dan dua belas siang karena tekanan air yang rendah. Pencurian sering terjadi dan hampir tidak pernah ditindak. Siapa pun yang keluar melewati pintu gerbang utama berisiko ditembak. Bahkan sepak bola pun dilarang. Bahwa kamp itu pernah bernama Kampung Makassar, dan semasa pendudukan Jepang pernah menjadi kamp interniran untuk perempuan dan anak-anak, membuat suasananya semakin menekan bagi Ans. Tembok-tembok itu memendam kenangan yang seolah-olah ikut bernapas.
Setelah hampir dua minggu di tanah tak bertuan yang pengap itu, Ans dan Charles dipanggil. Mereka berangkat ke pelabuhan Tanjung Priok. Di sana ia sudah menunggu — Johan van Oldenbarnevelt, masif dan diam, mengapung di air seperti hewan yang ragu-ragu apakah ia mau kembali memulai penyeberangan. Kapal itu menjulang tinggi di atas dermaga, lambungnya hitam dan lapuk oleh perjalanan-perjalanan sebelumnya. Kulit logamnya menyimpan bekas waktu dan garam. Seolah-olah ia pun tahu betapa banyak keluarga yang telah ia cabut dari tanah kelahiran mereka.
Sekitar pukul empat sore Ans dan Charles menginjakkan kaki di tangga naik. Tak lama kemudian terdengar tanda keberangkatan. Tali-tali tambat dilepas. Kapal perlahan bergeser dari dermaga, seolah-olah perpisahan itu sendiri adalah sebuah gerakan — lambat, tak terelakkan. Perjalanan panjang yang pelan menuju kehidupan baru pun dimulai.

Paspor Belanda atas nama Angeline Amaly Jacobsz, diterbitkan oleh Kerajaan Belanda pada tanggal 1 November 1950.
Di antara langit dan laut
Suatu pagi, di tengah-tengah Samudra Hindia, Ans berdiri di pagar kapal. Angin menarik roknya dan meniup rambutnya terurai, sementara cahaya matahari pagi meluncur seperti emas cair di atas air. Segala sesuatu di sekelilingnya seolah-olah larut dalam gerak dan keheningan — lautan yang bergoyang, getaran mesin di bawah kakinya, derit tali terhadap kayu. Udara terasa asin dan tipis, meresap dengan karat, oli, dan kelembapan dari kejauhan.
Ia memicingkan mata melawan cahaya. Kekosongan samudra menyelimutinya seperti cadar. Dan bersama kekosongan itu datanglah kenangan. Bukan karena ia menghendakinya, melainkan karena tubuh kadang-kadang mengingat apa yang pikiran lebih suka melupakan.
Ia melihat lagi pagar-pagar kamp: berkarat, pengap, dengan perempuan-perempuan yang melipat rasa takut mereka di antara tulang rusuk. Mayat-mayat di kampung, ditutupi, hancur. Suara-suara penjaga, berderit seperti pasir di tenggorokan. Dan ketukan jarum rajut — tusukan demi tusukan, di Blitar, punggungnya membungkuk, jari-jarinya kaku, ditukar dengan segenggam nasi dan sepotong masa kecil yang hilang.
Dan kini hanya ada angin, air, dan cahaya. Tidak ada perintah. Tidak ada tembakan. Tidak ada cengkeraman rasa takut. Hanya desir ombak yang lembut di atas baja. Dengung mesin yang monoton. Dan kayu yang berderit menahan gerak dunia.
Ia meletakkan tangannya di perutnya. Bukan karena ia memikirkannya, melainkan karena tubuhnya tahu: di dalam sana sesuatu sedang tumbuh. Seorang anak. Sebuah masa depan. Sebuah janji tanpa suara, namun sudah berbicara dalam keheningan. Tidak ada langit tropis yang akan menyambut anak ini. Tidak ada aroma melati, tidak ada suara lembut baboe yang akan menidurkannya. Ia akan tumbuh dalam kedinginan. Di antara suara-suara asing. Di antara tembok-tembok batu yang bagi dirinya sendiri pun masih terasa asing.
Namun dalam satu momen itu — di antara langit dan laut — ia merasakan sesuatu bergeser. Sesuatu yang bernafas, belum berbentuk atau bernama, namun tak terbantahkan hidup. Bukan pengganti. Bukan pelupaan. Hanya sesuatu yang baru, yang boleh ada berdampingan dengan semua yang ia bawa. Sesuatu yang kecil, mungkin. Sesuatu seperti harapan. Dan mungkin itu sudah cukup.
Negeri yang dingin
Pukul setengah empat dini hari tanggal 6 Maret 1951, mereka tiba di IJmuiden. Udara kering dan tipis menghantam seperti tembok ketika ia turun dari kapal. Napasnya keluar dalam kepul-kepul putih, seolah-olah bahkan kehangatan tubuhnya pun hendak meninggalkannya. Ia sudah tahu bahwa udara akan dingin, namun tidak ada yang bisa mempersiapkannya untuk dingin yang menembus segalanya. Minus tiga derajat, kata seseorang. Namun apa artinya itu, bagi seseorang yang hanya mengenal dingin sebagai hujan malam?
Mereka dibawa ke Middelburg, ke Hotel Pax — sebuah penampungan untuk keluarga-keluarga Indo yang baru tiba. Kata Pax, damai, terdengar hampa, seperti janji yang tidak pernah sepenuhnya diperuntukkan bagi mereka. Hotel itu terasa seperti ruang tunggu, tempat waktu menumpuk namun tidak ada yang terjadi. Bukan rumah, bukan tujuan. Hanya menunggu. Menunggu pekerjaan, menunggu tempat tinggal, menunggu pengakuan — sesuatu yang akan membuat mereka merasa bahwa mereka memang termasuk di sini.

Pemandangan Hotel Pax di Middelburg, Zeeland, sebagaimana terlihat pada tahun 1950-an. Foto ini berasal dari koleksi putri Ans, Sonja, dan disediakan oleh cucunya, Rutger Dercks.
Ia segera belajar bahwa orang Belanda tidak menyambut mereka dengan tangan terbuka. Orang-orang di sini berbicara dengan cara yang memutus — dingin, langsung, seolah-olah kesopanan adalah beban. Ia memahami kata-kata mereka, namun bukan nada mereka. Di Indonesia kelembutan ada dalam setiap gerak, dalam setiap keheningan. Di sini orang-orang memotong dengan kalimat, tanpa menyadarinya.
Bahkan ada saat-saat ketika mereka mencoba menggosok kulitnya hingga bersih, seolah-olah warna cokelat itu hanyalah kotoran yang bisa dihilangkan dengan cukup sabun dan air. Seolah-olah asal-usulnya adalah sebuah kesalahan, sesuatu yang harus segera diperbaiki.
Dan ketika dengan hati-hati ia mencoba bercerita tentang perang, tentang kamp, tentang malam-malam penuh ketakutan dan hari-hari tanpa makan, suaranya diredam oleh ketidakpahaman: "Tapi kalian kan tidak di kamp konsentrasi?" Seolah-olah kenangannya kurang berharga dan rasa sakitnya tidak terhitung karena berlangsung di bawah langit yang berbeda.
Setelah berbulan-bulan menunggu, datanglah kabar: mereka boleh pindah. Pada 5 November 1951 mereka tiba di Landgoed De Oldhorst di Wezep. Tempat itu terletak di ujung jalan masuk yang panjang, di antara pohon-pohon ek dan linden tinggi yang menghalau dunia luar seperti prajurit yang berbaris. Rumah besar itu berdiri putih dan angkuh dengan jendela-jendela tinggi dan sebuah menara kecil tempat para pelayan dulu mencapai kamar-kamar mereka.
Bagi orang luar, tanah itu tampak hampir seperti dongeng — anak-anak sungai yang berkilauan di antara dedaunan, terowongan rododendron yang seperti lengkungan hijau di atas jalan setapak, sebuah gua batu tua yang tersembunyi di taman. Namun bagi Ans rasanya seperti pementasan teater tanpa pemain. Dekor yang disusun dengan cermat, namun tanpa cerita. Tanpa jiwa.
Tidak terdengar suara berkerumun di beranda, tidak ada aroma pisang goreng, tidak ada irama gamelan yang lembut mengantar malam. Hanya kesunyian. Hanya dingin. Ini bukan Hindia.
Setiap malam, ketika ia menutup jendela dan mendengar angin bersiul melalui celah-celah, ia memikirkan malam-malam hangat masa kecilnya. Jangkrik-jangkrik, tawa adik-adiknya di taman, ibunya yang bernyanyi pelan sambil bekerja di dapur. Masa lalunya masih berdesir, seperti daun-daun dalam angin yang di sini tak pernah berhembus.
Ia mendekap erat putrinya, tubuh hangat yang kecil itu tertidur di dadanya. Sonja, lahir di Middelburg, tumbuh mengikuti pergantian musim. Dan sementara musim gugur perlahan mewarnai pohon-pohon linden dan menyelimuti tanah dengan dedaunan, Ans kembali mengandung kehidupan dalam dirinya. Seolah-olah tubuhnya berbisik kepadanya bahwa ada masa depan, bahkan di sini. Ia memejamkan mata. Dan sesaat, dalam momen yang sunyi dan rapuh itu, ada sesuatu yang terasa seperti pulang.

Kawasan De Oldhorst di Wezep pada tahun 1950-an.

Ans bersama putrinya, Sonja, yang digendong di Landgoed De Oldhorst di Wezep, musim dingin 1951. Mereka menginap di kamar K10.

Ans bersama kedua putrinya, Joyce dan Sonja, di Oldhorst, tahun 1953. Kedua foto di atas merupakan milik putri Ans, Sonja, dan disediakan oleh cucunya, Rutger Dercks.
Kehidupan baru di Oldebroek
Pada 1953 mereka pindah lagi. Kali ini ke Oldebroek, sebuah desa yang tidak jauh di sana, dikelilingi padang rumput yang luas, hutan pinus, dan jalan-jalan berpasir yang seperti urat nadi menembus lanskap. Mereka tiba di sini karena Charles bekerja di barak di 't Harde, sebagai tentara dalam dinas Angkatan Darat Belanda.
Oldebroek adalah desa di mana semua orang saling kenal. Wajah-wajah baru mencolok — terutama wajah Ans. Biasanya ia disambut dengan ramah, dengan anggukan atau sepatah kata, namun selalu dalam dialek yang membuat telinganya tegang, tanpa bisa ia pahami. Bunyinya seperti sesuatu antara dengung dan gonggongan — kasar, cepat, dalam mulut. Seolah-olah bahkan bahasanya hendak berkata: kamu tidak termasuk di sini.
Mereka tinggal di sebuah rumah deret di Van Sytzamalaan, tepat di belakang Hollanderstraat — jalan yang di Oldebroek dikenal sebagai "kampung Indo". Para tetangga belakang mereka adalah orang-orang Indo — orang-orang yang mengenal aroma yang sama, membawa cerita yang sama, menyimpan kenangan yang sama tentang negeri yang telah membuang mereka. Namun Ans dan Charles memilih untuk tinggal tepat di luar blok itu, dengan tetangga Belanda di kedua sisi.

Juni 1958. Berjalan-jalan bersama di Oldebroek. Charles, Ans, Lucy (istri Boy), dan anak-anak saat sedang berjalan-jalan. Foto ini berasal dari koleksi putri Ans, Sonja, dan disediakan oleh cucunya, Rutger Dercks.
Semua sesuai aturan
"Kita sekarang di Belanda, jadi kita harus bersikap seperti orang Belanda," janji mereka pada diri sendiri. Bukan karena malu — melainkan karena keharusan. Mereka ingin maju, membangun kehidupan baru dan meninggalkan masa lalu yang menyakitkan. Mereka ingin melindungi anak-anak mereka dari pengucilan dan perasaan menjadi berbeda. Penyesuaian bukan kelemahan, melainkan senjata. Jika kamu berperilaku seperti mereka, mungkin kamu juga akan diperlakukan seperti mereka: diterima, dilihat, dan diakui sebagai orang Belanda seutuhnya.
Bahasa Melayu pun menghilang dari percakapan sehari-hari. Atau lebih tepatnya: ia menjadi bahasa rahasia. Sesuatu yang hanya Ans dan Charles masih gunakan — pelan, singkat, dan berbisik, begitu anak-anak masuk ke ruangan. Karena mereka harus sukses. Mereka tidak boleh beraksen, tidak boleh menggunakan kata-kata yang berbeda, tidak boleh menimbulkan pertanyaan. Masa muda orang tua mereka — penuh dengan perang, trauma, dan sejarah keluarga yang telah terhapus — dibungkam. Bukan karena tidak penting, melainkan karena dalam kehidupan baru ini tampaknya tidak ada tempat lagi.
Di dalam rumah hanya terdengar bahasa Belanda. Jernih, benar, terkendali. Algemeen Beschaafd — seperti yang mereka sukai di sini. Dan seiring bahasa berubah, perilaku pun bergeser. Semua sesuai aturan. Tidak ada emosi yang meluap-luap, tidak ada cerita yang menjangkau kembali ke masa lalu yang tidak diinginkan siapa pun. Segala sesuatu yang terlalu mencolok — nada setengah bernyanyi dari bahasa Melayu; kenangan yang tak terucapkan tentang rumah — perlahan-lahan digeser. Disimpan. Disembunyikan. Bukan untuk melupakan, melainkan untuk menjaga keamanannya. Karena siapa yang mencolok, akan ditanya. Ditatap. Dinilai. Dan seringkali tidak dipahami.
Di balik itu semua ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang jarang mereka bicarakan: perasaan bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan kehadiran mereka. Seolah-olah keberadaan mereka hanya dibenarkan jika mereka bersikap penuh rasa syukur. Seolah-olah mereka harus membuktikan dengan menundukkan kepala bahwa mereka layak berada di sini. Mereka tidak berbuat salah apapun. Mereka adalah korban sejarah. Namun mereka tetap merasa bersalah. Untuk negeri yang mereka kehilangan. Untuk negeri yang mereka masuki. Untuk semua yang ada di antaranya.
Dan maka mereka belajar membuat diri mereka lebih kecil dari yang sebenarnya. Lebih tak terlihat. Lebih rapi. Tepat pada waktunya menutup jendela. Sedikit lebih sopan di toko. Sedikit kurang menjadi diri sendiri. Mengikuti arus, agar tidak harus berenang melawan arus. Sebab perlawanan berarti ketegangan, kecurigaan, dan itu tidak bisa mereka tanggung. Itulah refleks Indo yang lama — ketegangan otot yang diwariskan turun-temurun: membungkuk di hadapan badai, berdiam diri untuk bertahan, menyesuaikan diri hingga hampir tidak lagi tahu siapa sesungguhnya diri ini.
Warisan yang sunyi
Di Oldebroek, selain Sonja dan Joyce, lahir empat anak lagi: Winny pada 1954, Anneke pada 1956, Carla pada 1959, dan akhirnya Rudy, satu-satunya putra mereka, pada 1962. Enam anak, masing-masing dengan suaranya sendiri, mimpinya sendiri, jalannya sendiri.
Rumah itu tidak pernah sunyi. Selalu ada gerakan. Teriakan, tawa dan gonggongan. Sebagai ibu muda Ans senantiasa sibuk. Ia memasak. Ia memanggang. Ia mengupas, memotong dan mengaduk. Di dapurnya ia menemukan pegangan — tempat di mana masa lalu dan masa kini untuk sesaat bisa hadir bersama. Kemampuan memasak dan merajut yang ia pelajari sebagai gadis kecil di masa-masa perang, kini berguna kembali. Aroma bawang putih yang ditumis, kehangatan semangkuk soto di hari hujan, uap lembut di jendela dapur dari nasi yang baru dimasak. Dan ketika tidak memasak, ia merajut dengan setiap tusukan sesuatu yang hampir hilang. Kehangatan untuk anak-anaknya. Kelak untuk cucu-cucunya. Kasih sayang, seleret demi seleret benang. Tangannya menceritakan kisahnya — lembut dan sabar, namun kaku oleh dingin yang telah bersarang jauh dalam tulang-tulangnya.
Anak-anaknya tumbuh dengan susu, roti, stamppot, hagelslag dan lagu-lagu Sinterklaas. Mereka ikut menyanyi dengan televisi, bermain bersama anak-anak Belanda di jalan, dan tumbuh dewasa dengan pemahaman bahwa mereka adalah orang Belanda biasa. Di rumah pun mereka dipandang demikian. Namun kadang-kadang, ketika Ans memandangi rambut hitam berkilauan mereka, warna kulit mereka yang hangat, ia merasakan sesuatu terasa ganjil. Seolah-olah ada garis yang membelah kehidupan mereka yang bisa ia lihat, namun tidak oleh anak-anaknya.
Sebab di luar, di halaman sekolah, mereka tidak pernah benar-benar diterima. Mereka ditatap, kadang-kadang diejek, kadang-kadang diabaikan. Dan betapapun baik nilai-nilai mereka di sekolah — betapapun rapi tutur kata mereka, betapapun sopan perilaku mereka — mereka tidak akan pernah menjadi anak Belanda sungguhan. Untuk itu mereka terlalu berbeda. Namun mereka sendiri tidak selalu tahu mengapa. Karena di rumah orang berdiam diri. Bukan karena tidak mau, melainkan karena kasih sayang. Karena perlindungan. Karena harapan bahwa hal-hal itu akan hilang dengan sendirinya. Namun dalam kebisuan itu, sebagian dari cerita mereka pun menghilang — dan bersamanya kunci untuk identitas mereka sendiri.
Kenangan tentang Ans
Dapur penuh kasih
Ans suka memasak. Bukan sekedar suka, melainkan dengan sepenuh hati. Meski rematiknya — yang membuat sendinya kaku dan gerakannya sering terasa menyakitkan — ia berdiri berjam-jam dengan tangan-tangannya yang membengkok di dapur. Tanpa mengeluh. Tanpa terburu-buru. Selalu dengan penuh perhatian. Apapun yang anak-anak dan cucu-cucunya ingin makan, ia membuatnya. Kentang? Tidak masalah. Masakan Indo? Dengan senang hati. Namun yang paling sering ia masak adalah apa yang menurutnya paling enak: bermacam-macam lauk-pauk kecil, masing-masing dengan aroma, warna, dan rasanya tersendiri, yang bersama-sama memenuhi meja seperti sebuah pesta — ledakan cita rasa tak terlupakan yang sulit ditandingi siapa pun.
Dapur menjadi wilayah kekuasaannya. Di mana-mana ada panci dan wajan. Di kompor, di meja dapur, di atas freezer. Dan di atas freezer itu tergeletak selimut warna-warni — bukan untuk hiasan, melainkan sebagai alas untuk lebih banyak panci lagi. Charles, suaminya, seringkali harus mengambil sesuatu dari freezer itu. Namun itu tidak semudah itu. Pertama semua panci harus diangkat. Lalu diletakkan di meja dapur. Dan jika itu sudah penuh, pindah ke ruang tamu. Baru kemudian tutup freezer bisa dibuka. Ambil sesuatu. Tutup kembali. Dan kemudian seluruh proses diulangi lagi: menumpuk panci, menyeimbangkan, meluruskan selimut. Barulah Charles bisa kembali ke kursinya dengan desahan panjang.
Setidaknya... hingga Ans tiba-tiba berseru: "Hé Charles, kamu lupa ambil sesuatu dari freezer!" Dengan desahan putus asa dan lengan yang dikibas-kibaskan, Charles berseru: "Aduh, bagaimana sih kamu... aku baru saja duduk!" Dan ya, segalanya harus diulangi dari awal lagi.
Namun mereka tertawa. Karena begitulah mereka bersama: saling menggoda, saling berdebat, namun terutama menikmati kebersamaan. Seperti suatu kali ketika Ans mempermainkannya. Ia memanggil dari bawah: "Charles, makanan sudah siap!" Ia turun dari tangga, duduk di meja... dan menemukan sepiring air hangat. Ans tidak bisa menahan tawa. "Ah tidak, bercanda. Makanannya sebentar lagi siap." Dan Charles pun ikut tertawa.
Ketika anak-anak berkunjung — dengan pasangan, dengan cucu-cucu — Ans kadang-kadang mulai memasak berhari-hari sebelumnya. Ia membuat begitu banyak hingga meja hampir tidak ada tempat untuk piring-piring. Semuanya penuh. Aroma mengisi rumah. Cita rasa mengisi kenangan. Dan kasih sayang mengisi setiap masakan.
Sebab begitulah Ans memasak: bukan hanya dengan bumbu, melainkan dengan hati.

Desember 1995. Dengan mengenakan sweter rajutan buatan sendiri, Ans menyajikan makanan untuk Charles dan Boy (di sebelah kiri), sementara di sisi lain meja duduk Jim dan istrinya. Foto ini berasal dari koleksi Carla, putri Ans, dan disediakan oleh Angela Verheul.
Benang demi benang
Jika tidak sedang memasak, ia pasti sedang merajut. Atau menjahit. Atau keduanya sekaligus. Ans telah belajar keahlian itu di masa perang, ketika sebagai gadis muda dengan sedikit bahan ia tetap ingin membuat sesuatu. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang indah. Dan ia sangat mahir — ia bisa merajut pola dari ingatan, menghitung tusukan tanpa melihat, memadu-padankan warna seolah-olah hal itu dilakukan dengan sendirinya.
Meski Charles hampir selalu mengenakan seragam militernya, Ans merajut untuknya sweater-sweater. Sweater tebal dari wol dengan pola-pola warna-warni yang bukan ditempelkan belakangan, melainkan terjalin sepenuhnya dalam rajutan. Dengan jari-jari membengkok dan sendi-sendi yang kaku, ia melakukan semuanya dengan kasih sayang. Untuk Charles. Untuk anak-anaknya. Dan untuk cucu-cucunya.
Kadang-kadang salah satu si kecil menunjuk sesuatu di televisi. "Oma, sweater itu bagus," kata salah seorang. Ans ikut melihat, mengangguk, menyerapnya — warna, bentuk, pola. Dan pada kunjungan berikutnya, tiba-tiba ada sweater yang persis sama. "Ini," katanya sambil tersenyum, "sweatermu."
Ia tidak hanya merajut sweater. Ia membuat sweater leher tinggi yang tebal dengan kerah yang bisa ditarik hingga ke atas kepala. Hangat sekali, seperti selimut yang dibalutkan di bahu. Ia merajut kaus kaki, sarung tangan, gaun-gaun buatan sendiri dari kain yang dipilihnya sendiri. Laci penuh dengan gulungan wol dalam segala warna yang bisa dibayangkan. Bahkan kaleng-kaleng bekas sabun cuci pun diisi penuh dengannya. Tidak ada yang tahu kapan itu akan berguna.
Dan ada lagi tatakan panci tiga dimensi itu: bulat, tebal, dengan pola segitiga lembut di sisinya. Jika panci panas diletakkan di atasnya, tatakan itu melesak sepenuhnya. Dan begitu panci diangkat kembali, ia meremasnya sebentar, menariknya, membentuknya kembali. Siap untuk makan berikutnya.
Sebab apa yang Ans buat, bukan hanya praktis. Ia juga tahan lama. Bisa dipakai berulang kali. Penuh perhatian. Setiap tusukan adalah sebuah isyarat. Setiap benang adalah sebuah kenangan.

Ans, di rumahnya di Van Pijkerenlaan, dikelilingi oleh anak-anak dan cucu-cucunya pada hari peringatan 25 tahun pernikahannya dengan Charles. Di pangkuannya: Nathalie dan Robbert. Foto diambil pada 16 Januari 1976. Berdiri, dari kiri ke kanan: Eddie, Sonja, Winny, Carla, Benny, Anneke, Bert, Joyce bersama Chantal, dan Rudy.
Apa yang ia lihat
Ans memiliki sebuah anugerah. Bukan trik, bukan takhayul, bukan khayalan — melainkan anugerah yang nyata dan sunyi. Ia melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Manusia, terutama. Manusia yang tidak lagi ada di sini, namun masih datang untuk menyampaikan sesuatu. Masih datang untuk bertanya. Dan Ans mendengarkan. Kadang-kadang ia berbicara pelan sebagai jawaban. Ke arah dinding, demikianlah kelihatannya. Namun bagi dirinya, di sana berdiri seseorang. Dan seseorang itu ingin didengar.
Ketika ia berdiri berbicara di ruang tamu, mungkin sebagian orang mengira ia bergumam sendiri. Namun Ans tahu yang sebenarnya. Dan mereka yang mengenalnya dengan baik pun merasakannya. Orang-orang datang kepadanya, bahkan ketika mereka tidak berkata apa pun. Seolah-olah kehadiran dirinya sendiri sudah membuka sesuatu, menyentuh sesuatu yang tidak bisa diakses semua orang.
Ketika ia masih muda, ia harus menyembunyikan anugerah itu. Di Hindia masa kecilnya, dalam keluarga Kristen-Eropa, hal-hal seperti itu adalah tabu. Ibunya melarang keras. Hal-hal seperti itu kata orang tidak pantas untuk orang baik-baik. Katanya itu kebiasaan kafir, iblis, milik "orang inlander". Tidak ada tempat untuk suara-suara dari yang tak terlihat di dunia yang tidak mau kehilangan kendali.
Namun Ans tidak membiarkan siapa pun membungkamnya lagi setelah itu. Ia belajar bahwa anugerahnya bukan beban, melainkan kekuatan. Bukan dosa, melainkan indera. Dan yang terindah: ia mewariskannya. Kepada anak-anak. Kepada cucu-cucu. Bukan sebagai sesuatu yang harus dipaksakan, melainkan sebagai sesuatu yang bisa dikenali dalam diri sendiri — jika kamu mendengarkan dengan baik. Masing-masing dengan caranya sendiri belajar untuk hidup dengannya. Kadang terbuka. Kadang sunyi. Kadang dengan pertanyaan, kadang dengan ketenangan.
Sebab apa yang Ans lihat lebih besar dari kata-kata. Namun siapa pun yang mengenalnya, tahu: dunianya lebih dalam dari kebanyakan orang. Dan ia tidak pernah sepenuhnya sendirian di dalamnya.
Musim panas penuh kehidupan
Musim panas di Oldebroek sama sekali tidak sunyi. Sejak Ans menjadi orang pertama dalam keluarga yang meninggalkan kepulauan, adik-adiknya Jim dan Boy, serta kakak perempuannya Klein, menyusul tahun-tahun kemudian. Keadaan di republik muda itu menjadi tak tertahankan. Dan maka mereka pun datang — dengan koper penuh kenangan dan anak-anak yang mengikuti — menuju Belanda.
Setiap musim panas mereka berjanji bertemu di rumah Ans. Mula-mula menginap di kemping, namun segera loteng rumah di Oldebroek pun disulap menjadi satu kasur besar tempat seluruh rombongan tidur. Om Jim datang bersama tante Clara dan anak-anak mereka Chris, Alice, dan Mike. Tante Klein bersama om Peter dan rombongannya: Henk, Barbara, dan Angela. Dan om Boy bersama istrinya Lucy dan anak-anak Bianca dan Ruud.
Sementara Ans duduk mengobrol bersama saudara-saudaranya, anak-anak pun berlarian keluar — berguling-guling di rumput, bermain panahan, atau diam-diam bermain di lokasi bangunan belakang Kloklaan, tempat rumah-rumah baru sedang dibangun. Surga bagi anak-anak yang suka bertualang. Om Peter selalu ikut, antusias seperti anak-anak itu sendiri. Hingga suatu hari seorang penjaga muncul. "Pergi dari sini!" serunya. Namun Peter, selalu dengan senyum nakal, mencolok ke dalam saku jasnya. "Bagaimana kalau saya beri Bapak permen?" ia coba dengan seringai usil. Penjaga itu menatap dingin. "Tidak, dan sekarang pergi!" Tercengang namun terkikik-kikik, rombongan memulai pawai dua puluh langkah kembali ke rumah. Dan ya, om Peter pun kena omelan dari para ibu. Seperti biasa.

Anak-anak Ans dan Charles. Di barisan belakang, dari kiri ke kanan: Sonja, Winny, Anneke, dan Joyce. Di barisan depan: Carla, Henk, dan Angela (anak-anak Klein), serta Rudy. Foto ini milik Carla, putri Ans, dan disediakan oleh Angela Verheul.
Di malam hari anak-anak dimandikan, dicuci, dan didudukkan dalam piyama di depan televisi. Tepat pukul tujuh Charles menyalakan televisi, dan semua orang berkumpul di sofa atau di lantai mengelilingi meja kopi. Di akhir pekan mereka mendapat semangkuk keripik. Ketika TopPop tayang, kursi-kursi digeser ke pinggir dan para tante mulai berdansa — diiringi tawa anak-anak dan pandangan penuh persetujuan Charles dan Ans. Tidak ada yang merasa aneh menonton Sesame Street atau Fabeltjeskrant bersama-sama. Para orang dewasa pun ikut. Dan kalau anak-anak menginap di rumah tante Klein di Spijkenisse, ketika mereka kembali dari kamar mandi sudah ada semangkuk camilan dan minuman menunggu untuk setiap anak. Selalu. Tidak pernah berubah. Begitulah sebuah tradisi terbentuk — dari waktu yang dijalani bersama, dari pengulangan, dari kehangatan.
Hingga tradisi itu tiba-tiba berakhir.
Tante Klein dan om Boy memutuskan untuk bersama keluarga mereka pindah selamanya ke Amerika Serikat — ke Vermont dan Illinois, di mana kehidupan baru menanti. Ans ditinggalkan. Sejak saat itu hanya saudaranya Jim yang masih dalam jangkauan perjalanan, di Heemskerk.
Jim terpaksa melarikan diri ketika Papua Barat pada 1960-an direbut oleh Indonesia. Ketika ia ingin mengajukan paspor Belanda, ia harus membuktikan bahwa ia "orang Eropa". Namun bagaimana membuktikan sesuatu yang orang lain berhak untuk menyangkalnya? Ia harus mencari seorang ayah yang tidak pernah ia kenal. Dan barulah melalui saudara-saudara tiri dan saudara-saudara perempuan tirinya ia mendapat konfirmasi tentang asal-usulnya. Seorang lelaki yang dulu adalah ayah mereka, namun tidak lebih dari itu.
Ans sendiri juga punya sedikit kontak dengan saudara-saudara tiri dan saudara-saudara perempuan tirinya di Belanda, namun tidak pernah merasa benar-benar terhubung dengan mereka. Jarak masa kecil mereka tidak bisa dijembatani, betapapun seringnya ia mencoba. Sejarah keluarga yang tak terucapkan mengambang seperti kabut di antara mereka. Mereka adalah orang-orang asing, namun tetap terikat oleh darah yang sama. Dua dunia, dan ia berdiri di antaranya.

Ans dan Charles di belakang rumah di Van Pijkerenlaan 29, Oldebroek, pada tahun 1990-an.
Padang bunga milik oma
"Sejak kecil aku punya perasaan itu: kerinduan yang diam, rasa sakit yang rindu akan sesuatu yang tidak bisa aku gambarkan. Mungkin surga yang hilang?"
Menjelang akhir 1996, dingin di Belanda semakin terasa oleh Ans. Rematiknya, yang selama bertahun-tahun ditanggung dengan keteguhan yang sunyi, semakin parah dengan setiap hari musim dingin yang berlalu. Tembok-tembok yang lembab, angin yang tidak pernah pergi, dingin yang merayap masuk ke dalam sendi-sendinya — semuanya mengingatkannya betapa jauh ia dari kehangatan masa kecilnya.
Rasa sakit menjadi teman setianya. Tangan-tangannya, membengkok karena bertahun-tahun merajut, memasak, dan merawat orang-orang terkasih, kini hanya bisa bergerak dengan susah payah. Obat-obatan yang pernah memberinya kelegaan menuntut bayaran mereka dalam diam: perlahan-lahan pembuluh darahnya tersumbat. Pengapuran pembuluh darah bersembunyi jauh di jantungnya, tanpa ada yang melihat.
"Aku rindu akan padang bunga milikku — di sana indah dan begitu luas sehingga kamu tidak bisa melihat ujungnya, di mana-mana ada rumput dan di antaranya bunga-bunga, dan angin yang berderu memainkannya. Ketenangan dan kesunyian yang luar biasa itu, dan desiran angin di sekelilingmu. Sungguh membahagiakan. Aku ingin ke sana bersama cucu-cucuku, aku yakin mereka akan senang sekali di sana."
Ia tahu betapa rumitnya itu — betapa sulitnya bagi anak-anaknya untuk merasakan sesuatu dari kerinduan yang tidak pernah sepenuhnya mereka kenal.
"Ruud pun punya perasaan itu, ia akan semakin sulit menghadapinya. Jangan mencari terlalu jauh, asal-usulmu."
Perpisahan
Pada 3 Januari 1997 Ans dirawat di Rumah Sakit De Weezenlanden di Zwolle. Dikelilingi keluarga, meski masing-masing membawa duka, amarah, atau kesunyian yang tidak pernah terpecahkan. Namun ia berdiam diri tentang itu, seperti yang selalu ia lakukan. Batu-batu penyembuhnya tergeletak di atas meja samping tempat tidur, tidak tersentuh. Kadang-kadang mereka pernah membantu, kadang-kadang tidak, namun kini bahkan mereka pun tidak bisa membawanya kembali.
Ia perlahan-lahan melayang ke dalam tidur yang dalam, selama sepuluh hari menyeimbangkan diri antara kesadaran dan kelupaan. Napasnya semakin pelan, seolah-olah ia dengan hati-hati menarik diri dari dunia yang jarang memberinya istirahat.
"Dengan mata-mata indah mereka, mereka bisa menatapmu dengan begitu polos... Sayang sekali bahwa kepolosan itu hilang seiring bertambahnya usia. Banyak hal, yang kamu miliki sebagai anak-anak, menghilang ketika kamu dewasa. Kamu dibentuk oleh rumah, keadaan, lingkungan — sesuatu yang kadang-kadang tidak ada pilihan bagimu."
Pada 13 Januari 1997, tiga hari setelah ulang tahunnya yang ke-enam puluh enam, Ans meninggal. Dalam kesunyian, seperti yang telah ia jalani hidupnya. Bersamanya pergi bukan hanya seorang ibu dan nenek, melainkan juga sepotong identitas yang selalu sulit diberi nama. Sebuah masa lalu Indo yang sebagian besar tetap tak terucapkan, sebuah sejarah yang tidak pernah bisa sepenuhnya diwariskan.
"Di sanalah kamu berdiri, tak berdaya dan terpukul. Sulit sekali. Jangan selalu mencari kesalahan pada orang lain dulu. Ambillah sebuah cermin besar dan lihatlah ke dalamnya."
Dan Angeline Amaly Jacobsz itulah yang telah ia lakukan. Ia telah menatap ke dalam cerminnya dan membentuk dirinya sendiri, berulang kali. Ia telah meninggalkan masa lalunya di Indonesia, membangun masa depannya dengan susah payah di Belanda. Ia telah merawat, berjuang, tertawa dan mencintai, selalu dengan caranya sendiri.
Dan kini — kini ia akhirnya bebas.
Mungkin ia berdiri di sana, di padang bunganya. Di mana angin lembut memainkan rumput dan bunga-bunga berayun dalam cahaya. Di mana masa lalu tidak lagi terasa sakit, di mana kesunyian adalah kedamaian, dan di mana kerinduannya akhirnya bisa beristirahat. Ia sudah pulang.

